Tag Archives: renungan

Sepenggal Gumamku ya Allah

Ibadah puasa ramadhan adalah anugerah bagi kaum Islam. Ada kegigihan, kejujuran, keikhlasan, kesungguhan yang bertumbuh dengan suburnya di bulan seperti ini. Aku berhenti pada satu halaman buku kumpulan sajak W.S. Rendra yang berjudul Doa untuk Cucu. Sajak yang paling kukhidmati adalah judul Gumamku, ya Allah. Sajak yang diciptakan seniman di tanggal 28 Mei 1983 ini memiliki kosa kata religius yang menggugah hati lewat keyakinan dan iman.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.
Agama adalah kemah para pengembara.
Menggema beragam doa dan puja.
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.

Aku tidak lebih baik dari pada orang lain di sekitarku, dan mereka juga tidak lebih sempurna daripada aku. Kami sama-sama memendam pertanyaan, ketidaktahuan, dan kerinduan. Kami berpayung dalam iman dan keyakinan, agar kami berserah diri dalam pengembaraan hidup. Penyerahan diri ini berusaha kami penuhi dengan sujud yang menggaungkan doa, pengharapan, dan penghambaan kepada pencipta. Kami sama sama tidak tahu, tapi kami berusaha berbahasa. Menciptakan dialog lalu memahami bahasa dialog yang ada. Kami mengagumi keesaan sama seperti kami mengagumi arti meninggali dunia yang diciptakan dengan misterinya ini.

Tagged , , , , , , , , ,

Sepenggal Ahad 26 Desember 2004

Sapardi Djoko Damono menuliskan satu sajak yang diberi judul Hari Itu Ahad, 26 Desember 2004. Sajak ini ditulisnya tepat tanggal 30 Desember 2004. Dengan prosa yang dirangkai dalam alkisah manusia Aceh biasa di hari biasa. Bait-bait sajak ini disebutkan berulang-ulang sebagai selingan di cerita alkisah. Seperti menegaskan tragedi sedang terjadi begitu hebatnya.

bumi pun meregang,
kami tidak pernah mengenal maknanya,
laut menjelma dinding menjulang lalu menerjang ratusan kilometer cepatnya,


/meregang/ seperti membelah yang tidak biasa. Gerakan kerak bumi yang tidak sesederhana yang terdengar. Terhentak oleh ledakan dari dalam. Isyarat Sapardi menunjukkan awal dari segala tragedy ini. Yah, bumi pun /meregang/.
/laut/ /menjelma/ seolah mengisahkan kisah dewa-dewi Yunani Kuno, atau kisah dewa penguasa semesta lewat air. Tapi wujud /menjulang/ sang air sepertinya adalah keindahan yang tidak diabaikan oleh isyarat Sapardi. Sejenak mula, beberapa detik saja, /laut/ membentuk sesuatu yang tak dipercaya ada, megah, dan bertahta.

langit pun meninjau kami tanpa sepatah kata
lalu berkerut menajamkan tatapannya,
angin tersentak lalu berputar
dan tak kamu ketahui lagi keberadaannya,
dan kami pun terpesona :


/berkerut/ /menajamkan/ /tatapannya/ tidak pernah aku sangka bisa menjadi sebuah kiasan atas amarah alam yang begitu besarnya. Tidak berada di Aceh sana, aku kerap kesulitan membayangkan gemuruh dan pekatnya detik-detik yang panjang. Isyarat Sapardi tidak berhenti menunjukkan kedahsyatan alam tiada reda. /lalu/ /berputar/ merubah degup jantungku menjadi lebih cepat. Deraan bencana mendekat. Tidak lama lagi, kehendaknya akan terlihat di depan mata. Nanti, kami pun terpesona.

sekeliling kami sama sekali rata,
menjelma cakrawala,
dan puluhan ribu tubuh kami terserak,
tindih menindih,
melepuh dan membusuk,
tanpa nama.


/menjelma/ /cakrawala/ adalah kesempurnaan sajak yang aku decaki dengan kagum. Isyarat Sapardi begitu menghormati keseimbangan alam. Ketika bencana disikapi dengan syukur yang berbeda lewat kiasan, itu adalah indah buatku. /kami/ /sama sekali/ /rata/ tidak pernah berdiri sebagai larik sendiri. Mereka adalah kata-kata berpulang kembali sama seperti /melepuh/ /membusuk/ /tanpa nama/…

Tagged , , , , , , , , , , , ,

Sepenggal Doa

Aku baru saja memulai pagi ini dengan mendengarkan musikalisasi sajak Chairil Anwar berjudul DOA. Sebuah sajak yang mengajak khusyuk mengingat hakikat kita dan pencipta. Sajak yang tidak banyak menggunakan majas, bahkan kata-kata sederhana tetap saja mampu mengekspresikan renungan khidmat.

Dengan ditemani teh manis hangat, aku memutar ulang musikal lambat bait-bait sajaknya. Tenang, dan tidak memiliki tekanan nada tinggi pada kata apapun. Hanya kata-kata yang terangkai dengan arti sederhana dan mudah dibayangkan dalam ingatan.

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Kesamaan bunyi di ujung tiap baris sajaknya, mempertegas kekuatan kata-kata menjadi seluruh kisah bertutur yang penuh kesungguhan. Permulaan renung yang tidak dimulai dengan kesulitan mencerna kata-kata. Melainkan hanya perlu duduk mengingat tunggal sosok Esa.

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Di bagian ini, aku menemukan bahwa banyak orang mengartikan baitnya sebagai kisah perjalanan dan pengembaraan anak manusia. Yang berbalut keringat dan peluh, dosa dan aib, akibat pertanyaan dan pencarian yang tidak kunjung terpuaskan. Sampai akhirnya sang pengembara merasa ibarat kaus oblong berlubang-lubang digerogoti tikus rakus.

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Seperti bisa kukutip dari buku populer sang Windy Ariestanty tentang hakikat perjalanan adalah pulang. Pulang, setelah perjalanan panjang, ujung kekal dari petualang. Pulang kepada tuhannya dalam bait-bait ini seperti semakin kentara sebagai bentuk pasti. Bahkan anak juang sekuat apapun, tidak bisa memalingkan wajahnya dari pulang kepada asalnya ada.

Tagged , , , , ,