Tag Archives: penikmat

Sepenggal Gumamku ya Allah

Ibadah puasa ramadhan adalah anugerah bagi kaum Islam. Ada kegigihan, kejujuran, keikhlasan, kesungguhan yang bertumbuh dengan suburnya di bulan seperti ini. Aku berhenti pada satu halaman buku kumpulan sajak W.S. Rendra yang berjudul Doa untuk Cucu. Sajak yang paling kukhidmati adalah judul Gumamku, ya Allah. Sajak yang diciptakan seniman di tanggal 28 Mei 1983 ini memiliki kosa kata religius yang menggugah hati lewat keyakinan dan iman.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.
Agama adalah kemah para pengembara.
Menggema beragam doa dan puja.
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.

Aku tidak lebih baik dari pada orang lain di sekitarku, dan mereka juga tidak lebih sempurna daripada aku. Kami sama-sama memendam pertanyaan, ketidaktahuan, dan kerinduan. Kami berpayung dalam iman dan keyakinan, agar kami berserah diri dalam pengembaraan hidup. Penyerahan diri ini berusaha kami penuhi dengan sujud yang menggaungkan doa, pengharapan, dan penghambaan kepada pencipta. Kami sama sama tidak tahu, tapi kami berusaha berbahasa. Menciptakan dialog lalu memahami bahasa dialog yang ada. Kami mengagumi keesaan sama seperti kami mengagumi arti meninggali dunia yang diciptakan dengan misterinya ini.

Tagged , , , , , , , , ,

Aku Penikmat Isyarat

Jika sastra adalah hasil pahat tangan dan pena,

maka aku memiliki mata untuk meraba dan mengeja.

Konon sastra merupakan bentuk indah dari bahasa,

maka aku menikmati percumbuan dan pergulatannya.

Sajak sejenak adalah mahkota karya seni.

Bait berbaris adalah isi perut pemuja keindahan.

Tanda petik menampakkan tuhan tempat kata tercipta.

Titik setelah koma, seperti hentakan hasrat yang tertunda.

Sebut aku penikmat isyarat.

Yang menggilai isyarat seperti cinta dalam surat.

Andai aku punya kata dan takhta terkuat.

Tentu lebih banyak pujianku tersirat.

Tagged , , , , ,