Tag Archives: pendidikan

Sepenggal Seonggok Jagung

Ketika aku membaca ulang buku puisi W.S Rendra, ada ketakjuban melihat penggalan sajak yang diajarkan oleh beberapa larik sajaknya. Sajak berjudul Seonggok Jagung ini rupanya sangat populer dengan isu generasi muda masa itu. Bahkan banyak orang tua yang meminta anaknya membaca sajak ini dengan penghayatan akan setiap lariknya.

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu dari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar.

Generasi muda masa itu digambarkan sebagai generasi yang digelayuti ketidaktahuan dan ketidakpahaman akan masa depan mereka. Mereka harus bisa dibimbing untuk bersungguh-sungguh paham dalam menapak jejak hidup mereka di masa mendatang. Tidak hanya menjadi boneka kurikulum dan ambisi orang tua. Bahkan kondisi se-sederhana apapun, bisa menjadi aset masa depan yang bahagia. Tidak perlu kaya untuk bahagia, tidak perlu rumah mewah untuk memiliki ambisi berhasil, tidak perlu gelar pendidikan untuk memulai sebuah usaha bertahan hidup. Setidaknya Rendra telah mewariskan petunjuk dan isyarat itu lewat sajaknya yang sederhana ini.

Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.

Sedang di dalam dapur
tungku tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung.

Malang bagi banyak anak yang terlambat memanuver keputusan besar hidupnya. Tragis bagi banyak anak manusia yang mendarat di tanah lebih cepat dari seharusnya ia bisa terbang. Dan perih bagi anak-anak yang tidak mengerti bagaimana ia bisa menjadikan tubuh dan tekadnya untuk memiliki kemauan kuat terhadap sesuatu tentang hidupnya. Tapi lagi lagi terimakasih untuk puisi Rendra, itu mengingatkan bahwa mendidik anak-anak bukanlah tentang benar salah atau kalah menang. Tapi juga tentang jatidiri yang sejatinya adalah roh terkuat setiap hidup individu. Dan itu sepantasnya digali dalam perjalanan satu ke perjalanan berikutnya.

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkingan
otak dan tangan
siap bekerja.

Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dari seorang pemuda tamat SLA.
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkan dari kehidupan. Aku bertanya : Apa gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ? Apa gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya ? Apa gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : “Di sini aku merasa asing dan sepi!” Tim, 12 Juli 1975 Potret Pembangunan dalam Puisi

Tagged , , , , , , , , , , , ,