Tag Archives: bencana

Sepenggal Ahad 26 Desember 2004

Sapardi Djoko Damono menuliskan satu sajak yang diberi judul Hari Itu Ahad, 26 Desember 2004. Sajak ini ditulisnya tepat tanggal 30 Desember 2004. Dengan prosa yang dirangkai dalam alkisah manusia Aceh biasa di hari biasa. Bait-bait sajak ini disebutkan berulang-ulang sebagai selingan di cerita alkisah. Seperti menegaskan tragedi sedang terjadi begitu hebatnya.

bumi pun meregang,
kami tidak pernah mengenal maknanya,
laut menjelma dinding menjulang lalu menerjang ratusan kilometer cepatnya,


/meregang/ seperti membelah yang tidak biasa. Gerakan kerak bumi yang tidak sesederhana yang terdengar. Terhentak oleh ledakan dari dalam. Isyarat Sapardi menunjukkan awal dari segala tragedy ini. Yah, bumi pun /meregang/.
/laut/ /menjelma/ seolah mengisahkan kisah dewa-dewi Yunani Kuno, atau kisah dewa penguasa semesta lewat air. Tapi wujud /menjulang/ sang air sepertinya adalah keindahan yang tidak diabaikan oleh isyarat Sapardi. Sejenak mula, beberapa detik saja, /laut/ membentuk sesuatu yang tak dipercaya ada, megah, dan bertahta.

langit pun meninjau kami tanpa sepatah kata
lalu berkerut menajamkan tatapannya,
angin tersentak lalu berputar
dan tak kamu ketahui lagi keberadaannya,
dan kami pun terpesona :


/berkerut/ /menajamkan/ /tatapannya/ tidak pernah aku sangka bisa menjadi sebuah kiasan atas amarah alam yang begitu besarnya. Tidak berada di Aceh sana, aku kerap kesulitan membayangkan gemuruh dan pekatnya detik-detik yang panjang. Isyarat Sapardi tidak berhenti menunjukkan kedahsyatan alam tiada reda. /lalu/ /berputar/ merubah degup jantungku menjadi lebih cepat. Deraan bencana mendekat. Tidak lama lagi, kehendaknya akan terlihat di depan mata. Nanti, kami pun terpesona.

sekeliling kami sama sekali rata,
menjelma cakrawala,
dan puluhan ribu tubuh kami terserak,
tindih menindih,
melepuh dan membusuk,
tanpa nama.


/menjelma/ /cakrawala/ adalah kesempurnaan sajak yang aku decaki dengan kagum. Isyarat Sapardi begitu menghormati keseimbangan alam. Ketika bencana disikapi dengan syukur yang berbeda lewat kiasan, itu adalah indah buatku. /kami/ /sama sekali/ /rata/ tidak pernah berdiri sebagai larik sendiri. Mereka adalah kata-kata berpulang kembali sama seperti /melepuh/ /membusuk/ /tanpa nama/…

Tagged , , , , , , , , , , , ,